Dienstag, Juni 08, 2004

time is MONEY (elegi buruh minyak..)

Seorang pekerja nasional dikasi peringatan tertulis pagi ini. Peringatan mau terus bekerja atau mau berhenti. Ini peringatan pertama dan juga terakhir. Surat berikutnya adalah surat pemecatan dan ucapan terima kasih. Disini, tidak banyak toleransi bagi yang dianggap gak bisa ikut irama kerja tim.

Apa sih masalahnya?. Oohh, si pekerja rupanya dinilai tidak khusyuk kerja alias kurang optimal. Memang kalo bicara semboyan kapitalis sejati, di rig salah satu penerapannya. Time is money, waktu adalah uang. Gak ada cerita libur bekerja karena gak enak badan, meriang atau sakit. Kan ada klinik, kan ada dokter! itu alasannya. Kalo memang gak bisa kerja, dengan keterangan dokter tertulis, ya.. pekerja harus pulang untuk diganti dengan pekerja lain. Gak ada istilah rawat inap di rig. Ih.. kejam ya?!

Mungkin ya, mungkin tidak.
Cuman kita liat dulu kenapa sih rig kerja ngotot seperti itu?. Kerja simultan tiada henti 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun. Bahkan untuk pekerja, istirahatpun mesti gantian. Pekerja siang, istirahat malam. Pekerja malam, istirahat siang. Masing-masing dapat jatah 12 jam kerja setiap hari, ya setiap hari.. walaupun didarat libur akhir pekan dan hari raya. Iya..iya.., tapi kenapa begitu ngotot??
Jangan menganga kalo ternyata biaya operasional rig (baroness) perhari itu sekitar 350 ribu dolar amerika!! Coba kalo dikonversi ke rupiah dengan kurs 8600, hmmmm.... 3 milyaran deh perhari. Kali sebulan, trus kali setaon, hayo berapa??? Dikalkulator bisa tertulis error tuh lantaran banyaknya nol dibelakang angka.
Busyeettt..!!!. itu uang semua?? banyak amit yak!!!

Biaya sebanyak itu dikeluarkan pemilik rig untuk membayar pekerja sendiri, perusahaan penunjang (service company), serta bahan dan peralatan yang dipakai. Oh ya, di rig banyak lho perusahaan terlibat. Ada pemilik rig, pemilik ladang minyak dan gas, pemilik katering, dan perusahaan teknisi lainnya. Dalam satu rig, bisa belasan perusahaan terlibat.
Dan sialnya, semuanya biaya itu prabayar alias ditanggung sendiri pemilik rig. BP Migas alias pemilik ladang hanya akan membayar kalo sumur yang digali menghasilkan minyak atau gas dan bukan air mandi..:)

Waahh..rugi dong??, gak juga. Soalnya kalo sumur minyaknya ditemukan, apalagi kalo berkapasitas besar, seluruh pengeluaran biayanya diganti. Dan beritanya, 18% (dulu sih katanya 30%) dari nilai kandungan sumur itu jadi hak pemilik rig. Bersih netto tanpa sunatan.
Kalo sumur gak berisi, rugi besar dong?
Ya, itulah resiko pekerjaan. Mau untung gede, resikonya juga gede. Logikanya kan gitu. Iya toh?!!..
Jadi udah ngertikan, kenapa pepatah kapitalis itu dibuat. Waktu itu adalah uang. Time is Money. Siapa tau penciptanya juga bekas buruh minyak.


bolaritasi@pertamedika-OILCITY

Keine Kommentare: