Sonntag, Mai 09, 2004

ledakan di rig dan KORBAN itu..

30 April 2004 jam 16.13, Ledakan keras tiba-tiba terdengar dari ruang mesin rig. Api menyambar dahsyat. Para pekerja berlarian panik. Alarm meraung-raung bising. Telepon pun tak henti berdering. Kebakaran besar terjadi.
Safety man, medik dan rescue team cepat mengevaluasi situasi. Api masih berusaha dipadamkan pekerja yang lain. Asap dan foam memenuhi ruangan.

Dua orang cedera berat ditemukan. Sekujur tubuhnya melepuh terbakar. Seorang korban malah sudah tidak sadarkan diri. Yang satu, masih bisa mengerang lirih. Rescue team, yang terdiri dari kru catering yang sudah dilatih dasar P3K bertindak cepat memindahkan korban ketempat yang lebih aman.
Parahnya kondisi korban membuatnya harus cepat dievakuasi ke Balikpapan. Helicopter dari bandara Sepinggan pun di panggil. Itu tetap butuh waktu. Stabilisasi korban mesti dilakukan. Menjaga korban tetap hidup hingga siap evakuasi bahkan hingga tiba di rumah sakit di Balikpapan.

Korban yang tidak sadar dapat prioritas awal. Segala pengetahuan dan kemampuan diperas keluar dalam situasi ini. Intubasi untuk bantu napas spontan, infus dua lengan untuk atasi syok segera dipasang. Namun belum juga tuntas ditangani, anggota tim di korban kedua ngasi kabar kalo korban yang tadi mengerang kini juga tidak sadarkan diri.

Gawat. Sigap berlari ke korban kedua sambil nitip pesan evaluasi pada medik pertama. Evaluasi, pasang intubasi dan infus di dua lengan juga cepat dilakukan. Helikopter masih 30 mnt datangnya.
Dua korban makin kritis. Setiap menit begitu berharga. Keringat serasa membanjir keluar. Tegang.
Medik satu tiba-tiba teriak "dok, nadi menghilang!"
Buset!! "Kompresi cepat"

Helikopter 15 menit lagi tiba
Korban kedua agak stabil, bergegas ke korban pertama. Kontrol napas. Oke, tapi jantung masih diam. Nadi tak juga muncul. Kompresi lagi.
"Ambil X, suntik cepat!!"
Korban masih diam. Belum bereaksi sama sekali.
Disebelah, medik dua teriak, "Dok, korbannya henti jantung!" Oh, Tuhaaannnn..
"Kompresi!!"
Korban pertama masih diam.
"injeksi X, kompressii!!!"
"Medik 2, gimana??!!"
"Negative!!"
"injeksi X, kompresii lagi!!"


Detik berlalu. Kedua korban tidak juga bereaksi. Segala obat, segala upaya, segala skill dipake untuk membuatnya bereaksi. Sungguh, saya tidak meminta untuk pulih dan senormal sebelum musibah. Saya hanya ingin para korban bereaksi. Jantungnya berdenyut lagi atau napasnya muncul lagi. Hanya itu. Cukup itu.

Akhirnya.. helicopter yang dinanti tiba. Namun kedua korban tak tertolong. 45 menit waktu pertolongan tidak terasa. Tak ada rasa lelah apalagi merasa sia-sia meskipun gagal menyelamatkan korban. Kami sudah mengupayakan yang maksimal semampu kami, namun inilah takdir. Mungkin.
Evakuasi tetap dilakukan, hanya saja tidak lagi buru-buru. Karena yang dievakuasi tinggal jenasah.

Ada rasa kecewa. Ada beban menghimpit. Namun juga ada tawa. Lho?
Ya, Karena ini hanya simulasi. Latihan evakuasi dan penyelamatan korban. Tidak nyata meski dibuat seakan itu kejadian sesungguhnya. Hanya seandainya..


bolaritasi@pertamedika-OILCITY